Coblos Gubernur DKI..

ompasikom.gifSekitar dua pekan terakhir, ajang pemilu gubernur DKI dan wakilnya tak pernah absen dari liputan wartawan media. Entah itu wartawan televisi, cetak, radio, dan tak kalah juga para wartawan online. Sebuah hal yang selalu rutin diadakan, momen pemilu (pemilihan umum) menjadi perhatian tersendiri, apalagi untuk pemilihan kepala daerah ibukota ini.

Selama ini proses pemilihan umum di negeri kita, yang notabene “katanya” berdasarkan pada asas demokrasi, melalui sebuah even demokrasi yang disebut dengan proses pemilihan umum. Setiap rakyat yang memenuhi syarat akan masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) di setiap wilayahnya masing2. Mulai dari seorang profesor, doktor, jenderal, pengusaha, sampai masyarakat pinggiran, tukang becak, pedagang asongan (tanpa bermaksud meremehkan), dan tak ketinggalan para mahasiswa serta pelajar, turut bergabung dalam pesta demokrasi.

Iya, menarik. Sangat menarik. Namun, di benak saya dan mungkin anda semuanya pernah terlintas. Kenapa kok semua orang, mulai dari yang paling tinggi kedudukannya (di mata manusia), sampai mungkin yang dibilang paling rendah, itu memiliki nilai suara yang sama. Satu orang satu suara. Entah itu seorang profesor, yang ketika dia hendak memilih, dia harus melakukan sebuah pengamatan dan analisa yang mendalam. Atau pun pilihan seorang yang mungkin (maaf), buta huruf, tak pernah mengenyam bangku sekolah itu dianggap sama. Atau mungkin seorang pemilih yang tidak bertanggungjawab, dengan hanya sogokan uang dua puluh ribuan, maka tergadailah hak suaranya. Tanpa pernah berifikir panjang, bahwa pasti jika pihak yang melakukan “money politics” tersebut akan mencari “uang tebusan” pengganti “modalnya” selama kampanye.

Saya jadi teringat sekitar empat atau lima tahun lalu, ketika pemilihan rektor di kampus (ITS Surabaya). Mahasiswa diberikan kesempatan untuk memberikan pilihannya. Demikian pula para dosen dan karyawan universitas. Termasuk juga para senat, yang notabene sebagai wakil rakyat di rektorat. Namun pada proses pemilihan tersebut, nilai suara kami (para mahasiswa, pen) dianggap berbeda dengan suara senat. Nilai suara senat dihitung mempunyai nilai sekian poin dibandingkan dengan mahasiswa biasa.

Saya rasa ini lebih proporsional. Dan jika hal ini diterapkan, mungkin para calon pemimpin bangsa ini akan bisa berfikir lebih cerdas dan strategis taktis dalam memperbaiki bangsa ini. Tidak sekedar menggunakan euforia dan berkampanye bentuk halus pembodohan, yang membutakan para pemilih terhadap visi misi dan taktis calon gubernur DKI kemarin. Itu menurut saya pribadi, silahkan diluruskan jika ada yang mempunyai pendapat lain. (130807-2020).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: