“gak konsisten..”

Kemaren sabtu, di suatu event, di suatu tempat, secara kebetulan bertemu dengan seorang teman lama.. Sedikit tegur sapa, sedikit cerita-cerita… sampai akhirnya “eh Mal.. si xxndxx sekarang juga kerja di Jakarta Lho.. Bareng ditempatku, perusahaan satu group.. dia kerja di xgx..”

Agak kaget juga mendengarnya, “moso’ ahh.. Dulu khan dia katanya gak mau kerja di Jakarta.. Pengen membangun Surabaya katanya.. Membangun tanah kelahiran.. Gak mau ikut tergiur dengan godaan tanah ibukota..”. Hmm, gak percaya mendengarnya.. Gak percaya rasanya.. Kok bisa.. Walau sudah dibilangin gitu, namun rasa tidak percaya itu masih ada. Kayaknya kecil kemungkinan hal itu terjadi. Dan (sekali lagi) walau sudah diberi informasi seperti itu, rasa tidak percaya dalam diri ini masih ada…

Sampai akhirnya siang tadi, saya juga mendapatkan informasi tersebut dari seseorang yg lain lagi. Seseorang yang (mungkin) pada awalnya tidak percaya (sama dengan saya ketika pertama kali mendengar itu). Tapi kenyataannya, itulah adanya.. Sampai akhirnya saya nyeletuk komentar “wah gak konsisten arek’e..”. ………….

Sampai pulang sore tadi sedikit terpikir tentang hal tersebut. Tentang “gak konsisten..”. Tapi kalo direnungkan, dan sedikit berkaca pada diri sendiri, sebenarnya saya juga “gak konsisten..”.

Ketika dulu di kampus dan “hidup” di lingkungan sebuah UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang bernama “workshop of entrepreneurship of technology”.. Seringkali saya berceloteh, bahwa setelah mahasiswa lulus itu ada pilihan jalan hidup lain selain menjadi seorang pekerja/karyawan, yakni pilihan hidup jadi seorang pengusaha, seorang entrepreneur.. “Student today, entrepreneur tomorrow..” ……………..

Sampai akhirnya, ketika beberapa semester terakhir menjelang lulus, masih utak-atik dengan “sedikit” dunia “wirausaha”.. Mencoba-coba ini dan itu..

Dan, akhirnya sedikit terhenti, ketika menjelang lulus, orang tua dan paman bibi menyuruh untuk mengirimkan lamaran2 pekerjaan.. Iya, akhirnya mengiri lamaran pekerjaan juga ke beberapa perusahaan, walau memang sebenarnya, saya dulunya pas kuliah memang ada plan-B, untuk mencari pengalaman kerja dulu selama sekian tahun dan kuliah serta dapet gelar S-2, sebelum saya benar2 murni menjadi seorang entrepreneur, dan sebelum saya benar2 berwirausaha… …………..

Sampai akhirnya.. “teng teng teng..”. Punya boss, punya jobdescription, harus bikin report rutin, dan sampai akhirnya dapat sejumlah rupiah kerekening di tiap akhir bulan.. Mendapat sejumlah nilai reward rupiah yang standard.. Kerja kita rajin atau malas, maka reward dan hasilnya relatif tidak banyak berubah.. Berkisar antara nilai “itu” dan sedikit lebih dari “itu”..

Hehe, berstatus karyawan juga akhirnya.. Hehe.. Dan… Ternyata saya (mungkin) juga “gak konsisten”…

4 Responses to ““gak konsisten..””

  1. heru Says:

    Jadi skrg sudah merasa keenakan jadi pegawai dong..😀 . kita memang enggan untuk berubah dari situasi yang sudah membikin kita nyaman didalamnya.

  2. xxxri Says:

    semoga segera kembali membangun daerah… setelah mendapat pengalaman. agar pemerataan dakwah bisa terwujud….

  3. rendra sanjaya Says:

    sopo maksudmu bang?
    nilai konsistensi harus dibangun dari filosofi dasar…
    siapa qt? untuk apa qt ada? sampai kapan qt mau hidup?
    konsistensi bukan berarti hitam tetaplah hitam….
    sorry…..

  4. aghost Says:

    ya mudah-mudahan,dapat kembali ke kota kelahirannya,membangun kota dengan pemerataan daerah yang dapat dinikmati oleh warga kota tercinta.oke boss…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: