Salah satu jurus pamungkas perusahaan Jepang

Anda pernah dengar istilah SQCDM? Atau mungkin pernah dengar EHS-QCDM? Atau mungkin hanya QCD saja? Yup.. istilah-istilah tadi seringkali ditemui pada perusahaan-perusahaan Jepang, khususnya pada perusahaan manufaktur. Entah itu perusahaan manufaktur bidang otomotif, elektronik ataupun manufaktur bidang lain. Perusahaan-perusahaan Jepang besar semacam honda, Sharp atau bahkan sekelas toyota pun seringkali mengadopsi istilah ini dalam manajemennya.

Istilah SQCDM yang merupakan kependekan dari Safety-Quality-Cost-Delivery-Morality. Atau jika EHS-QCDM itu kependekan dari Environment Health & Safety – Quality Cost Delivery Morality. Dan jika hanya QCD itu kependekan dari Quality Cost Delivery. Istilah-itsilah tersebut merupakan istilah untuk urutan prioritas yang dipergunakan oleh manajemen sampai ke jajaran level paling bawah dalam melakukan aktivitas-aktivitas kerjanya.

Safety, sesuai dengan bahasa, artinya adalah keamanan. Disini yang dimaksud adalah pentingnya aspek keamanan pada saat bekerja. Aspek safety ini sangat banyak disorot terutama pada area produksi, dimana di area produksi ini, yang notabene para pekerjanya seringkali bergumul dan bercengkerama dengan mesin-mesin besar selama tak kurang dari delapan jam setiap harinya. Tentu saja ketika berinteraksi dengan mesin-mesin atau mungkin peralatan kerja lain, banyak resiko kecelakaan kerja yang senantiasa mengintai para pekerjanya. Sedikit saja mereka ceroboh atau menyalahi tata cara pemakaian mesin atau peralatan, itu bisa fatal akibatnya.

Berkaitan dengan safety ini, pernah sekitar 3 tahun lalu, sekitar bulan agustus 2003, ketika penulis sedang melakukan kerja praktek dan OJT (On the Job Training) di perusahaan manufaktur otomotif Jepang, yakni di Toyota, di Sunter Jakarta, terjadi sebuah kasus kecelakaan kerja yang merenggut nyawa salah seorang karyawannya. Kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan orang yang lupa mematikan mesin, sementara mesin yang ada didekatnya masih hidup. Secara tak sengaja, mesin yang menyerupai roll super besar, yang berjalan otomatis itu (entah berapa ratus atau berapa ribu kilogram beratnya) “menyentuh” kepala dan tubuh bagian atas seorang pekerja, dan tentu saja menyebabkan tubuh sang pekerja itu terlempar dan terjerembab ke tanah. Kontan saja badannya remuk, dan nyawa pun melayang tak tertahankan. Demikian pula sekian banyak kasus lain yang banyak terjadi. Khan kasihan anak isterinya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh sang kepala keluarga, hanya karena kecerobohan kita saat bekerja.

Selanjutnya, ada aspek Quality. Aspek ini menempati urutan kedua. Menunjukkan aspek yang paling penting setelah aspek keamanan kerja (yang secara “default” pasti menempati urutan prioritas pertama). Dalam perusahaan Jepang, aspek ini sangat dijunjung tinggi. Hampir di setiap tahapan selalu ada pihak yang bertugas mengecek kualitas produk, biasanya dilakukan oleh bagian quality control atau quality assurance (pada detail responsibility-nya, sebenarnya ada beberapa perbedaan antara dua bagian ini). Jika sedikit saja ada cacat pada produk yang dihasilkan pada setiap tahap proses produksi, maka akan langsung dinyatakan “reject”, yang selanjutnya akan dilakukan proses perbaikan (repair), proses ulang (re-process), atau bahkan langsung dibuang/daur ulang (recycle).

Menempati urutan prioritas ketiga, terdapat aspek cost. Sesuai dengan hukum ekonomi konvensional, yakni dengan biaya sekecil-kecilnya untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sejak beberapa dekade terakhir, memang sudah sangat dikenal bahwa perusahaan Jepang itu sangat ketat dalam urusan biaya. Setiap sen demi sen mata uang Yen yang keluar akan benar-benar diperhitungkan. Setiap receh demi receh harus ada added value yang diperoleh.

Untuk mendukung prioritas minimum cost ini, banyak diterapkan berbagai program. Semacam CRP (cost reduction program) atau sejenisnya. Kalau di Toyota, khususnya pada TPS (Toyota Production System), ada istilah harus meminimumkan adanya “muda”, yang artinya hal yang sia-sia.

Prioritas keempat adalah aspek “delivery”. Pengiriman hasil kerja harus sesuai dengan jadwal yang sudah di-standard-kan. Sebut saja, semua pekerjaan harus “on-time”. Tak boleh ketat sedikit pun. Memang untuk urusan disiplin, orang Jepang termasuk sangat bagus. Apalagi jika dibandingkan dengan kultur jam karet di negeri kita.

Terakhir yaitu “morality”. Yup.. simpel, bekerja secara bermoral, beretika, dan santun.

Iya, kira-kira demikian tentang SQCDM. Menarik. Maka sungguh layak apabila produk-produk perusahaan Jepang bisa menembus pasar dunia, termasuk pasar Eropa dan Amerika. Bisa kita lihat sendiri bukti hasil kerja mereka.. Nah, sekarang bagaimana dengan Indonesia..?!?

5 Responses to “Salah satu jurus pamungkas perusahaan Jepang”

  1. muhandis Says:

    hmmm, dulu sempat ikut training Lean Manufacture. Bacemannya (contekan) Amerika terhadap system TPS. Teorinya memang indah sekali sih. Tapi aplikasinya kayak mimpi. Sampe sekarang udah nggak mbekas tuh di bos2 terhadap system itu hehehe. Mungkin antum perlu nulis juga gimana nerapinnya di Indonesia, bukan teorinya saja.

  2. kamale Says:

    Oh iya,
    ada bukunya juga yang membahas ttg Toyota Way dan ttg Lean Manufacturing (bacemannya TPS itu), tapi belum sempet baca bukunya.
    Ntar ta coba mbahas disini deh mas..🙂
    Atau kapan2 kita diskusi lagi?
    Btw rumah di jababeka udah di tempatin blum? Kalo udah, boleh dong main kesana? hehe..🙂

    salam,

  3. haikal00 Says:

    tertarik dgn yg terakhir mal.. moral.
    perusahan yg berhasil bertahan biasanya punya komitmen moral yg lebih, ga sekedar nyari duit doang.
    tapi aq ga tahu riil di lapangannya gmn..
    bener ga sih gitu..?

  4. kamale Says:

    yup.. memang yang namanya perusahaan itu pasti cari profit, dan bukan sebagaimana sebuah yayasan yang bergerak secara nirlaba.

    Namun, sebenarnya dalam hal ini, moral banyak lebih terkait dengan bekerja dengan punya integritas yang tinggi. Menjunjung tinggi kejujuran, bekerja dan berkompetisi secara fair (tidak sikut kanan – sikut kiri — bagi rekan sejawat, dan tidak injak sana – injak sini — bagi atasan kepada bawahan), dan sejenisnya.

    Dan moral secara corporate (mungkin) bisa juga diartikan bahwa ada peran ke masyarakat luas, cerdas bersama, maju bersama, sejahtera bersama..

  5. titie Says:

    Di Indonesia, aspek QSHE dianggap sebagai wasting cost, dan paling sering “dipangkas” saat lg nyusun budget.Pdhl, makin solid awarness QSHE makin banyak profit yg mereka dapet…sayangnya gak banyak yg sadar…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: