“first-stone ceremony” ala jepang

Senin kemaren, 19 desember 2005, di tempat ku ada peletakan batu pertama (first-stone ceremony) untuk pembangunan gedung pabrik yang baru. Kebetulan gedung pabrik yang baru ini dibangun tepat di belakang lokasi pabrik dan kantor yang ada sekarang. Ada perluasan dan penambahan lokasi pabrik, sehingga lebih luas ke arah belakang dari luas lokasi yang sekarang. Untuk menuju kesana, kalo dari gedung kantor, cukup bejalan sekitar dua ratus meter ke arah belakang.

Yup.. mungkin adalah hal yang lumrah (bagi orang Indonesia tradisional, Red.) unuk mengadakan semacam upacara ketika akan membangun rumah, gedung, jalan atau sejenisnya. Namun ada hal yang menarik dan unik bagiku yang kemarin terjadi di tempatku. Mungkin karena kebetulan perusahaan tempat ku ‘belajar’ sekarang adalah perusahaan joint venture yang sebagian besar sahamnya (enam puluh persen, Red.) dimiliki oleh Jepang, sedangkan sisanya (empat puluh persen, Red.) dimiliki oleh perusahaan lokal (Astra Otoparts Tbk, Red.).

Di kultur bangsa kita, umumnya upacara untuk peletakan batu pertama bisa berupa pemotongan pita dan peletakan batu pertama untuk pondasi bangunan. Atau mungkin ada juga yang menggunakan air berisi kendi yang kemudian air isi kendi tersebut disiramkan ke tanah tempat batu pertama akan ditanam. Selanjutnya ada bunyi sirine pertanda proyek pembangunan gedung dimulai atau diresmikan.

Nah, pada acara kemarin tersebut ada satu hal yang cukup menarik dan menggelitik. Jika biasanya pada kultur Indonesia, itu menggunakan air dalam kendi, maka dalam adat Jepang ini menggunakan sake, minuman khas Jepang (tapi gak tahu pasti apakah ini adat Jepang yang ‘resmi’, Red.).

Para ‘punggawa’ perusahaan satu per satu bergantian menyiramkan air sake ke tiang pancang dan pondasi yang ditanam. Kemudian, entah kenapa, mereka mengangkat botol sake tepat di hadapannya, kemudian memberi semacam hormat. Sedikit merunduk sekitar satu sampai tiga detik ke arah botol sake dan tiang pancang didepannya. Iya, itu pertama kali aku melihat hal seperti ini. Aneh memang, tapi tentunya mungkin tidak aneh bagi mereka.

Serentak teman-teman kerja ku menyeletuk, “wah.. ini sich kembali ke jaman batu.. menyembah batu.. hehe..”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: