Coblos Gubernur DKI..

ompasikom.gifSekitar dua pekan terakhir, ajang pemilu gubernur DKI dan wakilnya tak pernah absen dari liputan wartawan media. Entah itu wartawan televisi, cetak, radio, dan tak kalah juga para wartawan online. Sebuah hal yang selalu rutin diadakan, momen pemilu (pemilihan umum) menjadi perhatian tersendiri, apalagi untuk pemilihan kepala daerah ibukota ini.

Selama ini proses pemilihan umum di negeri kita, yang notabene “katanya” berdasarkan pada asas demokrasi, melalui sebuah even demokrasi yang disebut dengan proses pemilihan umum. Setiap rakyat yang memenuhi syarat akan masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) di setiap wilayahnya masing2. Mulai dari seorang profesor, doktor, jenderal, pengusaha, sampai masyarakat pinggiran, tukang becak, pedagang asongan (tanpa bermaksud meremehkan), dan tak ketinggalan para mahasiswa serta pelajar, turut bergabung dalam pesta demokrasi.

Iya, menarik. Sangat menarik. Namun, di benak saya dan mungkin anda semuanya pernah terlintas. Kenapa kok semua orang, mulai dari yang paling tinggi kedudukannya (di mata manusia), sampai mungkin yang dibilang paling rendah, itu memiliki nilai suara yang sama. Satu orang satu suara. Entah itu seorang profesor, yang ketika dia hendak memilih, dia harus melakukan sebuah pengamatan dan analisa yang mendalam. Atau pun pilihan seorang yang mungkin (maaf), buta huruf, tak pernah mengenyam bangku sekolah itu dianggap sama. Atau mungkin seorang pemilih yang tidak bertanggungjawab, dengan hanya sogokan uang dua puluh ribuan, maka tergadailah hak suaranya. Tanpa pernah berifikir panjang, bahwa pasti jika pihak yang melakukan “money politics” tersebut akan mencari “uang tebusan” pengganti “modalnya” selama kampanye. Read the rest of this entry »