Coblos Gubernur DKI..

ompasikom.gifSekitar dua pekan terakhir, ajang pemilu gubernur DKI dan wakilnya tak pernah absen dari liputan wartawan media. Entah itu wartawan televisi, cetak, radio, dan tak kalah juga para wartawan online. Sebuah hal yang selalu rutin diadakan, momen pemilu (pemilihan umum) menjadi perhatian tersendiri, apalagi untuk pemilihan kepala daerah ibukota ini.

Selama ini proses pemilihan umum di negeri kita, yang notabene “katanya” berdasarkan pada asas demokrasi, melalui sebuah even demokrasi yang disebut dengan proses pemilihan umum. Setiap rakyat yang memenuhi syarat akan masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) di setiap wilayahnya masing2. Mulai dari seorang profesor, doktor, jenderal, pengusaha, sampai masyarakat pinggiran, tukang becak, pedagang asongan (tanpa bermaksud meremehkan), dan tak ketinggalan para mahasiswa serta pelajar, turut bergabung dalam pesta demokrasi.

Iya, menarik. Sangat menarik. Namun, di benak saya dan mungkin anda semuanya pernah terlintas. Kenapa kok semua orang, mulai dari yang paling tinggi kedudukannya (di mata manusia), sampai mungkin yang dibilang paling rendah, itu memiliki nilai suara yang sama. Satu orang satu suara. Entah itu seorang profesor, yang ketika dia hendak memilih, dia harus melakukan sebuah pengamatan dan analisa yang mendalam. Atau pun pilihan seorang yang mungkin (maaf), buta huruf, tak pernah mengenyam bangku sekolah itu dianggap sama. Atau mungkin seorang pemilih yang tidak bertanggungjawab, dengan hanya sogokan uang dua puluh ribuan, maka tergadailah hak suaranya. Tanpa pernah berifikir panjang, bahwa pasti jika pihak yang melakukan “money politics” tersebut akan mencari “uang tebusan” pengganti “modalnya” selama kampanye. Read the rest of this entry »

Di Jepang, Semakin Sedikit yang Mau Jadi Pemimpin

Ketika baca di intranet kantor, ada sebuah artikel menarik berikut:

————

Di Jepang, Semakin Sedikit yang Mau Jadi Pemimpin

samurai.jpgJepang mengalami krisis kepemimpinan di masa depan, bukan karena tidak ada calon yang pantas, tapi semakin banyak yang menolak untuk dipromosikan menjadi pemimpin.


Jepang mengalami tren yang sedikit berbeda dengan Indonesia. Bila di Indonesia orang-orang berebut menjadi pemimpin, di sana, semakin lama semakin banyak yang enggan menjadi pemimpin.


Demikian diutarakan President Management Service Center (MSC) Tokyo Kiyoyuki Takeuchi pada salah satu sesi Kongres Nasional II Assessment Center Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta, pekan lalu.MSC adalah pembawa bendera Development Dimension International (DDI) di Jepang. Studi terakhir yang dilakukan oleh MSC menunjukkan, Jepang akan sulit mencari pemimpin masa depan. Selain karena jumlah penduduk diprediksikan akan semakin sedikit, penelitian juga menemukan 49% karyawan menolak untuk mendapatkan promosi.
Read the rest of this entry »

Kacamata kehidupan

Coba lihat foto dibawah ini:

copy-of-p5100118.jpg

Apa yang bisa kita lihat..??

Yup, benar sekali. Sebuah Tower BTS yang sangat tinggi sekali.

Nampak terlihat sangat tinggi. Kalo misal kita mau menuju ke puncaknya,

pasti akan terlihat sangat susah..!!

Read the rest of this entry »

Ber-asuransi, mau pilih asuransi jenis apa..?

allianz_02.jpgPernah mendengar nama “asuransi takaful” ? atau mungkin pernah mendengar “asuransi prudential” atau “asuransi allianz”..? Nah apa beda antara keduanya?

Orang bilang bahwa asuransi takaful adalah asuransi syariah. Sedangkan asuransi prudential atau allianz itu bukan syariah. Dimana perbedaannya? Kenapa disebut syariah, dan kenapa bukan syariah?? Berikut pembahasannya:

A. Definisi Asuransi Syariah Menurut DSN ( التعريف بالتأمين الإسلامي عند الهيئة الشرعية الوطنية )

Asuransi Syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Read the rest of this entry »

Kisah tukang rumput sultan agung tentang “nasib”

indonesian_kings1.jpgAlkisah pada jaman Sultan Agung, beliau memiliki seorang tukang rumput yang sangat rajin. Pagi buta sang tukang rumput sudah berangkat untuk mencarikan rumput bagi kuda-kuda istana. Tukang rumput pun hanya akan memberikan rumput kualitas terbaik bagi kuda-kuda istana. Melihat prestasi tukang rumputnya, sebagai rasa terima kasih, Sultan Agung memberikan hadiah semangka. Hadiah semangka yang diberikan bukanlah semangka sembarangan. Menurut Sultan Agung, semangka tersebut akan bisa banyak mengubah nasib tukang rumput tersebut.

Namun, apa yang terjadi. Ternyata si tukang rumput menjual buah itu. Padahal, Sultan Agung mengisinya dengan segenggam berlian yang bisa membuatnya menjadi kaya. Apa boleh buat. Sultan Agung lalu menyimpulkan, miskin itu agaknya memang sudah suratan nasib.

Nah, dari penggalan kisah diatas, apa yang ada di pikiran kita? Apakah kesimpulan dari Sultan Agung bahwa miskin itu memang sudah suratan nasib seseorang. Apakah ketika lahir, maka sudah ada garis takdir bahwa kita akan jadi kaya atau jadi miskin..?!?

Nah, kalo gitu, kira2 anda ini punya nasib jadi kaya.. atau jadi miskin kah..?!??