Coblos Gubernur DKI..

ompasikom.gifSekitar dua pekan terakhir, ajang pemilu gubernur DKI dan wakilnya tak pernah absen dari liputan wartawan media. Entah itu wartawan televisi, cetak, radio, dan tak kalah juga para wartawan online. Sebuah hal yang selalu rutin diadakan, momen pemilu (pemilihan umum) menjadi perhatian tersendiri, apalagi untuk pemilihan kepala daerah ibukota ini.

Selama ini proses pemilihan umum di negeri kita, yang notabene “katanya” berdasarkan pada asas demokrasi, melalui sebuah even demokrasi yang disebut dengan proses pemilihan umum. Setiap rakyat yang memenuhi syarat akan masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) di setiap wilayahnya masing2. Mulai dari seorang profesor, doktor, jenderal, pengusaha, sampai masyarakat pinggiran, tukang becak, pedagang asongan (tanpa bermaksud meremehkan), dan tak ketinggalan para mahasiswa serta pelajar, turut bergabung dalam pesta demokrasi.

Iya, menarik. Sangat menarik. Namun, di benak saya dan mungkin anda semuanya pernah terlintas. Kenapa kok semua orang, mulai dari yang paling tinggi kedudukannya (di mata manusia), sampai mungkin yang dibilang paling rendah, itu memiliki nilai suara yang sama. Satu orang satu suara. Entah itu seorang profesor, yang ketika dia hendak memilih, dia harus melakukan sebuah pengamatan dan analisa yang mendalam. Atau pun pilihan seorang yang mungkin (maaf), buta huruf, tak pernah mengenyam bangku sekolah itu dianggap sama. Atau mungkin seorang pemilih yang tidak bertanggungjawab, dengan hanya sogokan uang dua puluh ribuan, maka tergadailah hak suaranya. Tanpa pernah berifikir panjang, bahwa pasti jika pihak yang melakukan “money politics” tersebut akan mencari “uang tebusan” pengganti “modalnya” selama kampanye. Read the rest of this entry »

Orang PA-DANG yang PAndai berDAgaNG dan Australia

rumahmakanpadang.jpg
Kemaren sempat “instant messenger”-an dengan seorang kakak kelas di kampus, yang kebetulan sedang menempuh pendidikan masternya di Australia. Dia sempat cerita beberapa hal tentang kehidupannya disana. Diantaranya tentang pergantian musim, kebudayaan, dan kehidupan kuliahnya. Namun, ada satu hal yang cukup menarik bagi saya, yakni cerita ketika dia berbelanja di pasar. Karena kebetulan selama tinggal di sana, teman saya ini lebih suka untuk memasak sendiri, daripada beli makanan jadi. Selain karena alasan lebih terjamin halalnya makanan yang dimakan, juga demi program pengiritan.. hehe (Ke Aussie khan mau sekolah, bukan dalam rangka travelling).
Melanjutkan cerita tentang berbelanja, biasanya teman saya itu kalau pergi ke pasar, cukup dengan naik bis kota dengan waktu tempuh sekitar lima atau sepuluh menit, sudah sampai di tujuan. Pasar di sana jangan dibayangkan seperti pasar tradisional di keputran ya, tapi lebih tertata rapi dan terjaga kondisi kebersihannya.

Read the rest of this entry »

Di Jepang, Semakin Sedikit yang Mau Jadi Pemimpin

Ketika baca di intranet kantor, ada sebuah artikel menarik berikut:

————

Di Jepang, Semakin Sedikit yang Mau Jadi Pemimpin

samurai.jpgJepang mengalami krisis kepemimpinan di masa depan, bukan karena tidak ada calon yang pantas, tapi semakin banyak yang menolak untuk dipromosikan menjadi pemimpin.


Jepang mengalami tren yang sedikit berbeda dengan Indonesia. Bila di Indonesia orang-orang berebut menjadi pemimpin, di sana, semakin lama semakin banyak yang enggan menjadi pemimpin.


Demikian diutarakan President Management Service Center (MSC) Tokyo Kiyoyuki Takeuchi pada salah satu sesi Kongres Nasional II Assessment Center Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta, pekan lalu.MSC adalah pembawa bendera Development Dimension International (DDI) di Jepang. Studi terakhir yang dilakukan oleh MSC menunjukkan, Jepang akan sulit mencari pemimpin masa depan. Selain karena jumlah penduduk diprediksikan akan semakin sedikit, penelitian juga menemukan 49% karyawan menolak untuk mendapatkan promosi.
Read the rest of this entry »